Misteri Angkernya Jalur Ranca Darah Purwakarta yang Pernah Menjadi Tempat Pembantain Warga Tionghoa

Misteri Angkernya Jalur Ranca Darah Purwakarta yang Pernah Menjadi Tempat Pembantain Warga Tionghoa

WISATA RELIGI-Jalur berkelok dengan tikungan tajam serta pepohonan besar disetiap sisi jalanya membuat jalan penghubung Kabupaten Subang dengan Purwakarta yang dikenal dengan jalur Ranca Darah Purwakarta semakin seram untuk di lewati terutama di malam hari.

Jalur Ranca Darah Purwakarta menyimpan riwayat sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia pada zamannya dengan seribu cerita tragedy yang banyak menelan ratusan korban jiwa.

Ranca jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia artinya adalah rawa, Jadi Ranca Darah berarti Rawa Darah.

Jika dilihat dari sejarah, di jalur sepanjang setengah kilometer tersebut pada zaman penjajahan Belanda terjadi pembantaian terhadap pekerja perkebunan the yang berasal dari etnis tionghoa oleh pasukan VOC.

BACA JUGA: Misteri Angkernya Jalan Cibuang Subang Yang Sering Dijadikan Tempat Pembuangan Mayat

Dilansir dari Website Pemerintah Kabupaten Purwakarta, Pada tanggal 8 dan 9 Mei 1832 terjadilah kerusuhan besar-besaran di Daerah Wanayasa dan Purwakarta. Para pekerja membakari gedung-gedung dan bangunan pemerintah, yang baru dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Karawang bersama dengan Pemerintah Hindia Belanda.

Kemudian pada tanggal 10 Mei 1832, Orang-orang Tionghoa yang berada di Wanayasa beramai-ramai pergi menuju Purwakarta, mereka berniat menyatukan tenaga dengan tujuan bisa mengalahkan para penjajah Belanda. Ditengah-tengah perjalanan yang tepatnya di tanjakan Pasirpanjang (yang panjang sekali, kurang lebih 3 Km), rombongan-rombongan pekerja perkebunan teh itu bertemu dengan pasukan VOC dari Purwakarta.

BACA JUGA: Misteri Sosok Nenek Penunggu Tikungan Krani Pantura Yang Sering Menelan Korban Kecelakaan

Pada saat itu juga terjadilah pertempuran antara para pekerja perkebunan teh yang berasal dari Tionghoa dengan pasukan VOC. Banyak sekali korban yang berjatuhan dimana-mana, sampai sepanjang jalan yang jauhnya kira-kira setengah kilometer penuh oleh mayat-mayat yang bergeletakan, darah berceceran dimana-mana hingga sampai menyerupai seperti rawa-rawa.

Semenjak itu, daerah tanjakan Pasirpanjang dikenal dengan sebutan Rancadarah alias Rawadarah.

admin

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: